Peziarah
Tanpa Iman
*untuk Martasudjita
Beratus-ratus purnama
aku merenungkan
dan pada malam yang itu
aku meyakini
Kutanggalkan jubah
kebesaran itu
untuk mengarungi
samudera tanpa cakrawala
Bukan pada lubang di
antara selangkang
Bukan pula demi uang yang
bergelimang
Tetapi mengikuti kata
hati sanubari
yang senantiasa bergema
pada tiap sudut raga
Aku ini peziarah
tanpa iman
tanpa kepercayaan
tanpa tongkat pegangan
Hanya mengikuti bisikan
nurani
penuh kesadaran dan
kebebasan
Aku ini roh merdeka
yang tak mengimani
surga
pula tak percaya neraka
Aku ini roh merdeka
yang narima ing pandum
Menjawab “ya” pada
hidup
dengan segala
konsekuensinya
Dengan kegairahan ini
aku memilih mati di atas Teater Arena
dan bukannya mangkat
dengan hormat di pastoran Gereja
Engkau takkan mengerti
dan memahami jiwa kami
Engkau takkan mengerti
dan memahami keputusan ini
Takkan pernah,
sebab kauberada di atas
menara gading yang kuning
dan kepadamu semua
lutut bertelut
Cawan yang tersaji di
hadapanku telah kutenggak habis
Tubuh dan darahku telah
tercurah di atas panggung teater itu
Semuanya telah menjadi
persembahan yang sempurna
bagi hidup serta
kematian yang mengikutinya
Sekiranya engkau harus
menjadi kematian kecilku
jadilah!
Dan kalian,
jangan ikuti jejakku!
Buatlah jejakmu sendiri...
Tepi Jakal, 20
Mei 2012
Padmo “Kalong
Gedhe” Adi
Comments
Post a Comment