Kau
dan Pelacur Tua
‘kau sudah berhenti
terlelap
Bahkan lupa apa mimpi
semalam
Ataukah mimpi indah
bertemu gadis tetangga
atau mimpi buruk
kehilangan pekerjaan
Tidak ada sepuluh menit
‘kau sudah selesai
mandi
Lima menit berikutnya
‘kau telah siap kerja
Melompat dari angkot
satu ke angkot lain
Berlari mengejar bus
kota bersama ratusan lainnya
dan melanjutkan tidur
sembari saling himpit di dalam bus
yang menggelinding laju
menuju Jakarta
Tak pernahkah
kaunikmati indahnya mentari pagi,
kicau burung yang
bersahut merdu menggoda hati,
atau tangis bayi
tetangga yang merengek minta susu lagi?
Di depan sana Jakarta
siap menyambutmu
Gerbang tol menjadi
gapura selamat datang
Namun, ‘kau harus antri
Busmu yang tadi laju
kini merangkak
Di tengah bising
klakson dan kepulan asap knalpot
busmu terus merangkak
berdesak-desakan dengan
ribuan kendaraan lain
Semua menuju Jakarta
yang mengangkang
selangkang dengan genitnya
Jakarta,
pelacur tua itu masih
menawarkan impian
harapan untuk hidup
kaya berlimpah harta
menggenggam puncak
dunia dan mandi uang berjuta
Takkan habis uang
kaukejar
Hanya menghasilkan pilu
dan sendu
Dan, tiba-tiba saja
‘kau kehilangan waktumu
menjadi tua dan renta
tanpa pernah semenitpun
menikmati hidup
tanpa pernah sedetikpun
merasakan cinta
Karena, untuk dapat
menyusu dari payudara Jakarta,
‘kau harus terus
mengantri sampai mati
dan terkubur tanpa
nisan di antara gedung-gedung tinggi
Warung Susu
Kayen, 06 Juli 2012
Padmo “Kalong
Gedhe” Adi
Comments
Post a Comment