Dua Wajah
Kalau kausimpan
sejenak motormu,
lalu berjalan
kaki, menyusuri jalan,
perempatan kota,
dan tikungan di pedalaman,
atau sekadar
naik bus, angkot, dan kereta
kauakan
menjumpai barisan wajah-wajah
Ada cerita di
balik wajah itu.
Ada drama, ada
tragedi.
Ada romantika,
ada komedi.
Wajah itu
memiliki kisah sendiri-sendiri.
Namun, tak
jarang kisah itu sembunyi
di balik roman
muka dingin tanpa emosi.
Seakan tak ada
yang terjadi
dan akan
baik-baik sajalah esok hari.
Padahal, ketika
kautatap wajah itu dengan jeli,
ada sebuah garis
besar pemiskinan di negeri ini.
Namun, di sisi
lain, pada suatu titik tertentu
kita perlu
melampaui struktur, dan melihat pribadi.
Masih ada mental
inlander yang bikin minder.
Hanya berhenti
pada menjual iba kepada sesama.
“Seikhlasnya,”
begitu pintanya.
Dan, ketika “seikhlasnya”
itu diberikan,
bukan senyum
ramah seperti sewaktu meminta,
melainkan sebuah
gerutu kekecewaan.
Itulah dua wajah
kemiskinan kita.
Satu sisi kita
memang dipermiskin keadaan.
Namun, di sisi
lain kita malah manja dalam kemiskinan
menjual-jual iba
tapi enggan
bersyukur
juga lupa
semboyan “berdikari”!
Berdikari itu
memang menguras daya, Bung.
Malang,
30 November 2013
Padmo
Adi (@KalongGedhe)
Comments
Post a Comment