Sayang,
Kamu Tidak Keberatan, ‘Kan?
Kamu tahu, Sayang?
Setiap malam hampir
dini hari
ketika aku melembur
menulis puisi
aku kelaparan.
Namun, tidak ada yang
bisa kumakan
kecuali nasi telur di
burjo itu.
Tidak ada pilihan.
Dan, kamu tahu, Sayang?
Setiap kali aku memesan
telur yang digoreng
yang kupesan adalah
telur ceplok mata sapi setengah matang.
Jadi, setiap kali aku
makan, mata itu akan menatapku...
dan setiap kali aku
mengirisnya,
cairan kuning itu akan
mendelewer.
Itulah tatapan orang-orang
yang tanahnya direnggut
demi minyak untuk menggoreng
telurku itu tadi.
Itulah darah mendelewer
orang-orang yang tanahnya direnggut
demi minyak untuk
menggoreng telurku itu tadi.
Kamu tidak keberatan, ‘kan,
Sayang,
punya kekasih seorang
pembunuh?
tepi Jakal, 08
Januari 2014
Padmo Adi
(@KalongGedhe)
Comments
Post a Comment