Orang-orang
Kalah
Mungkin benar
katamu,
kita adalah
orang-orang kalah.
Kita adalah
orang-orang yang gelisah
tetapi takdir
membuat kita pasrah.
Idealisakit,
katamu.
Aku mulai jarang
mendengar jeritanmu
sebagaimana aku
pun kini jarang meradang.
Mungkin kita berdua
sudah tumpul.
Mungkin kita
berdua tidak cukup berani.
Kita ditinggalkan
seakan tanpa pilihan.
Orang memang hidup
bukan dari roti saja,
melainkan juga
dari kata!
Hanya saja, kata
tidak pernah mengenyangkan
tetapi semata
memberi ketentraman jiwa.
Kita tak pernah
punya cukup nyali untuk total di sana!
Kini, kita dapati
diri kita membusuk di belakang meja.
Mungkin kaulebih
beruntung.
Di atas mejamu,
kaumasih bisa bebas membuat rupa.
Sementara aku, di
atas mejaku hanya ada excel!
Pelepas dahaga
hanyalah ketika menemani darah-darah muda.
Mungkin itu yang
bisa membuat aku tetap bermimpi.
Suatu hari nanti
kita akan merindukan hidup bohemian,
suatu kemewahan
yang tidak bisa dinilai dengan Soekarno-Hatta.
Sebab, di sana
kita mereguk pagi yang abadi,
seakan-akan surga
telah hadir di bumi.
Kini, kita
hanyalah orang kalah.
Mau sampai kapan?
Duapuluh?
Tigapuluh tahun lagi?
Sampai kapan?
Beberapa mimpi
dengan enggan kukuburkan.
Bapakku, ommu itu,
mati belum genap empat lima.
22 Juli
2016
Padmo
Adi
Comments
Post a Comment