Kleca
Kleca... Kleca...
sungguh aku
ingin menangis menatapmu.
Akan tetapi, air
mataku terlanjur kering,
membatu, dan
mengganjal hatiku.
Masihkah ada
Tuhan yang tersalib di rahimmu?
Sementara
kausibuk bersolek diri,
memulas dengan
gincu yang sebenarnya wagu,
perlahan
kaukehilangan hangat keibuanmu.
Di manakah
batu-batu kali itu?
Mungkin sudah
kaugunakan
untuk merajam
kecompang-campingan.
Kini bergemerlapanlah
‘kau. Megah nian.
Namun, anak-anakmu
berserakan.
Kleca... Kleca...
Ingin rasanya
aku mengumpulkan anak-anakmu,
tapi ‘kautendang-singkirkan
buah rahimmu sendiri!
Hanya karena
mereka begitu berisik mencintaimu,
“Jangan terlena
bergincu. Tetap bersahajalah seperti dulu.”
O... Kleca... kemegahanmu
sungguh sepi.
Begitu jor-joran
kautampilkan wajah megahmu,
sementara
anak-anakmu yang tersisa keleleran.
Ada yang bingung
mau ke mana dan bagaimana.
Ada pula yang
mengeluh, kauhisap tiap Minggu.
Tidakkah
kaudengarkan jeritan sunyi mereka?
Kleca...
Kleca...
Lihatlah patung
yang tersalib
dari tembaga
dalam ronggamu itu.
Kurus kering,
cokelat kemerahan.
Namun, begitu
jauh. Begitu asing.
Juga empat
patung raksasa yang mendampinginya.
Temanku mengira
itu bukan Maria, tetapi Jenova.
Masihkah ada
Tuhan di dalam kemegahanmu itu?
Tuhan yang lahir
di dalam kandang domba.
Tuhan yang
berselimutkan kecompang-campingan.
Tuhan yang tak
punya tempat untuk meletakkan kepala.
Tuhan yang mati
hina, didera dan disalib, tanpa busana.
Jalan
Ruwet Duwet, Karangasem, 08 Desember 2016
Padmo
Adi (@KalongGedhe)
Comments
Post a Comment