SEBAB KITA MAKAN ANAK DOMBA YANG SAMA
*kepada Prativi, Karna, dan Sena
Dua bocah lelaki
menetek dalam dekapan ibu
tanpa bapa.
Sebab lelaki
yang mereka panggil bapa
hampir tidak
pernah ada di sana.
Tiga ratus kilometer
membentang
hutan lembah
gunung menjulang
memisahkan
mereka.
Lelaki itu dulu
pergi bertapa
mencari bapanya
yang telah tiada.
Di kaki Merbabu
dia melihat cahaya,
memancar dari
seekor yuyu, lalu bercinta.
Dari rahim yuyu
itu lahirlah dua bocah lanang,
yang satu methakil seperti Hanuman
yang satu sumega seperti Werkudara.
Namun, mereka
tak bisa bersama-sama.
Si lelaki harus
menjalani dharmanya,
bersama Sastra Legawa dia berjalan ke Timur,
menembus hutan
menapaki lembah
melompati gunung
hingga tibalah
dia di Negeri Ibu segala Raja Jawa.
Dalam lindungan
ibunya, Mataram Merah
yuyu dan dua
bocah lelaki itu dititipkan.
Jarak berubah
menjadi kerinduan,
rindu berubah
menjadi puisi,
puisi berubah menjadi
doa.
Lelaki itu pergi
ke Rumah Bapa,
yang rongganya
seperti garba ibunya.
Di sanalah
upacara pengorbanan Anak Domba.
Tubuh-Nya
dipecah-pecahkan lalu dibagi.
Si lelaki
memakannya, penuh kerinduan.
 |
[...] yang rongganya seperti garba ibunya. Dokumen pribadi. |
“Istriku,
anak-anakku...
jika kalian
rindukan aku,
makanlah daging
Anak Domba,
maka kita akan
bersatu,
sebab kita makan
Anak Domba yang sama,
di bumi seperti
di dalam surga.”
Malang,
10 November 2019
Padmo
Adi
Comments
Post a Comment