API PASKAH
Aku
melihat api. Api di mana-mana.
Ada
orang ingin mengebom gereja.
Tanpa
dia tahu, gereja sudah setahun ini kosong.
Masing-masing
streaming misa online dari rumah.
Tapi,
dia nekat mendatangi gereja.
Meledakkan
diri.
Ususnya
terburai.
Wajahnya
tersenyum.
Gosong.
Santo
Petrus, penjaga gerbang surga, menemuinya.
“Minta
apimu... aku ingin udud dulu.”
Lelaki
itu bingung.
Tidak
ada bidadari.
Hanya
Petrus, lelaki Yahudi.
Santo
Petrus kasihan padanya.
Lelaki
itu tak diakui agamanya.
Terlanjur
jadi arang... baunya anyir.
“Tuhan di
mana?”
“Tuhan
adalah api.”
“Jadi, benar
aku mati demi Tuhan?”
“Ini kretek.
Ududlah dulu. Seminggu lagi Paskah.
Nanti
kau aku permandikan... dengan air. Biar tidak gosong begitu.”
“Tidak. Aku
mau dibakar api.”
“Tuhan
adalah air.”
Santo
Petrus tidak paham,
sebenarnya
lelaki itu hanya ingin dibaptis...
dengan
api.
Seperti
janji Isa pada murid-murid-Nya.
Hanya
saja, dia salah baca.
Api
Roh Tuhan adalah cinta, bukan mesiu.
Santo
Petrus menghabiskan kreteknya.
Dipandanginya
lelaki gosong itu...
menangis
tersedu-sedu.
29 Maret 2021
Padmo Adi
Comments
Post a Comment